06 April 2008

Merpati

Terakhir aku melihatnya masih berduaan saat mampir kerumahku. Bermain di dekat ember air di samping rumahku. Sambil sesekali duduk di dahan batang belimbing. Suara riang dan saling bercanda dengan kekasihnya menyelusup masuk ke kamarku. Aku tidak tahu kalau mereka kekasih atau hanya sekedar teman. Tapi dari caranya memandang dan berbicara aku tahu kalau ada cinta diantara mereka. Maka aku memutuskan kalau mereka sepasang kekasih.

Kemarin aku tidak melihat kau datang lagi bermain di samping rumahku atau di pohon belimbing. Memang hujan beberapa hari ini selalu membasahi bumi setelah hari-hari dilanda panas yang sangat. Saat semua yang hidup serasa menjadi lebih tua dari semestinya. Sampai awan yang menggelap membawa kabar akan turunnya rintik air dari sana. Tentu semua bersuka cita. Hanya kau yang kulihat murung. Saat itu aku lihat kehadiranmu di samping jendela kamarku. Tanpa suara dan sendirian. Kau hanya memain-mainkan air di ember sambil sekali menatap langit. Seseolah menunggu sesuatu datang dari sana. Kau lebih banyak gelisah dan diam. Sebenarnya aku ingin menanyakan kemana kekasihmu itu. Tapi melihat kau yang begitu resah membuat aku membatalkan niat itu. Dan hanya memandangi semua gerak-gerikmu. (baca lanjut)

7 comments:

amalia hazen said...

salam ya buat merpati yg tinggal sendiri..
Mungkin ada kekasih yg akan datang yg lbh mengasihi... dan dia persembahan Tuhan untuknya..

rusle said...

ulasan yang bagus..
saya juga menyenangi semua cepern yg ada di buku Makkunrai ini, semuanya adalah potret lokal dan global yang coba ditampilkan seorang Lily. Dia bisa menelanjangi dengan cerdas sikap pongah para lelaki, dari yang jauh di pelosok kampung bugis, hingga di ranah nasional...
saya juga membuat review nya di blog ku...

sardi ardi said...

Semua ad waktu'a...

sardi slodhox said...

Like it

sardi slodhox said...

Like it

sardi slodhox said...

Like it

sardi slodhox said...

Like it